Senin, 31 Agustus 2020

My Agustus

 Agustus itu bulan milikku (jangan komplain)

Karena aku lahir di bulan ini. Tiap awal bulan aku selalu antusias menyambutnya. Tanggal 22 adalah tanggal istimewa untuk dikenang. Di tanggal itu aku akan berulangtahun, mengenang pertambahan usia dari tahun-tahun sebelumnya. Berharap semoga diri ini semakin matang alias mature kata orang seberang sana!

Masa remaja dahulu jujurlah..aku ingin hari kelahiran dipenuhi suasana sukacita. Ucapan selamat dari orang terdekat. Dengan wajah gembira engkau dido'akan..diharapkan mendapat kebaikan dan meraih semua apa yang diinginkan. Pokoknya, tanggal 22 itu berakhir dengan malam yang indah dan aku tidur dengan mengaminkan semua do'a yang membumbung ke langit seiring mimpiku yang mengangkasa.

Semakin tua, jujur aja lagi!!

Ternyata kita semakin mencari makna. Tanpa diperintah aja, fikiran dan hati kita seperti ada sebuah guide yang meuncul memberi pencerahan tanpa kenal waktu dan tempat. Misalnya: aku melihat sebuah kejadian yang menyedihkan yang dialami seorang teman. Dari layar kesedihan itu aku tidak turut larut seperti sebelum-sebelumnya.Timbang perasaan sudah didominasi fikiran mencari makna.Semakin tua kita ternyata semakin mencoba tidak terburu-buru.Kita sudah pernah mengalami suatu peristiwa yang mana kala terjadi lagi ke depannya (dengan format serupa) maka jiwa kita mengambil pelajaran dari yang sudah-sudah.Kita tidak lagi terlalu emosional, kita semakin sering melihat kepergian orang-orang yang kita kenal. Saudara, teman, guru,tetangga.Dan itu semakin memberi makna.

Ditengah angka usia yang semakin naik seperti angka berat badan, aku memilih menyepi dari kehingarbingaran.Aku bukannya antipati dengan ucapan Selamat Milad,selamat ulang tahun. Tak ada yang salah dengan ucapan berisi do'a selamat. Kepada anak-anak tiap hari lahirnya kami tak pernah memberikan lilin ber angka dan menyuruh mereka (make a wish, son!) lalu meniupnya.Tidak. Tapi setiap mereka ultah, hingga saat inipun kami akan saling mengucapkan selamat.Dan menutup malam dengan makan bersama keluarga.Karena kue sudah terlalu menambah berat badan (lagi-lagi).Ia berklori sangat tinggi!. Momen ulang tahun bagi anak harus tetap mereka peringati.

Tapi saat suami dan anak-anakku bulan kemarin mengucapkan selamat ulang tahun, aku semakin diingatkan tentang limit yang semakin dekat.Dan aku banyak-banyak mengaminkan do'a :semoga usiamu berkah! karena panjang umur tapi tak berkah akan sia-sia.

Demikian catatan malam ini tepat pukul 23:09


Sabtu, 15 Agustus 2020

Mendung di Langit Sinabung

 


    Sebuah novel berada di tanganku. Buku bersampul gelap itu seolah menggambarkan kelabunya asap Gunung Sinabung, seperti judulnya Mendung di Langit Sinabung.

Yup..kuulangi kembali membaca novel karangan seorang teman, saudara dalam ukhuwah,wanita tangguh, Ika DY yang sekarang berdomisili di Kota Binjai Sumatera Utara. Novel ini bertemakan kisah percintaan seorang penyintas (survivor) bencana bernama Atika yang memendam rasa terhadap Ibrahim, teman masa kecilnya. 

Rumitnya kisah percintaan diramu Ika DY dengan adanya Alisya dan hadirnya sosok Guntur  di sisinya. Remuknya hati  menghadapi realita menghantarkan Atika berangkat meninggalkan kotanya ke Sinabung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, mengabdikan diri dalam kegiatan kemanusiaan dan juga melarikan diri dari sebuah kegelisahan. Siapa yang mesti ia salahkan? perhatian Ibrahim kepadanya yang telah disalah maknai? atau sosok Alisya yang membiarkan perasaannya berurat berakar namun akhirnya tercerabut dan menyisakan rasa  perih? Yang jelas ia marah kepada keduanya!

    Bagiku, novel ini memberi kesan tersendiri.  Gunung Sinabung yang gagah perkasa selalu terlihat menjulang dari kampung ku di Sidikalang, Kabupaten Dairi. Desa Sukandebi, daerah yang digambarkan rawan dalam  cerita novel ini  hanya berjarak  sekitar 32 Km dari Sidikalang. Secara geografis Kabupaten Dairi  dan Kabupaten Karo bersebelahan bersusun di dataran tinggi. Bubungan hitam letusan serta debu bisa terlihat dan sampai ke perbatasan daerah kami. Bencana erupsi. Sinabung yang kembali  terjadi minggu lalu itupun seolah memberi rasa tersendiri  membacanya, seolah membawa rendezvous tokoh Atika dan Guntur. 

    Novel ini  memuat cerita  kemanusiaan, kehidupan relawan bencana dan suka-dukanya. Bagaimana suasana saat letusan terjadi, bagaimana kesigapan bertindak dan mengisi waktu menghibur anak-anak pengungsian.  Ika DY menggambarkan kondisi Dataran Tinggi Karo dengan tepat. Alam dinginnya, subur tanahnya dan ramah penduduknya. Menyatu bersama warga di pengungsian bencana seolah membawa kita langsung mengalami suasana tersebut.

    Rasa khas 'Sange' seolah telah hadir di mulutku, mengingat aku dibesarkan di Sidikalang . Kondisi tanah Karo seiras dengan daerahku, kondisi alamnya, kearifan masyarakatnya. Minuman khas itu juga ada di daerah kami (percayalah ka, aku langsung menyeduh sange-ku dengan rasa yang 'pas' itu :)). Termasuk juga Cimpa, kue khas Karo juga istilah-istilah bahasa Karo yang sangat akrab di telinga. Mengingat Tigalingga, kecamatan di perbatasan Dairi-Karo, kampung ibuku dilahirkan mayoritas masyarakatnya berbahasa Karo.

    Keseharian Atika bersama pengungsi menggumulkan rasa kasihan, empati dan bercampur pilu hati setiap mengingat Ibrahim dan Alisya yang meluluhkan perasaannya. Atika berusaha mengalihkan setiap bayangan Ibrahim yang tak berhenti hadir di benaknya. Atika mencari jawaban rasa yang dia sendiri tak pernah tahu kenapa selalu mengganggunya. Sosok Bang Ben dan dr.Alin membuat Atika menyadari bahwa cinta tak mesti saling memiliki. Karena waktu berlalu dan banyak hati lain yang mesti dijaga. Suatu waktu ia mesti belajar ikhlas, dan waktu menjawabnya.

    Namun setiap upaya kita menjauhkan diri, selalu ada jalan untuk pulang. Berita mendadak tentang Alisya  yang kini tergolek rapuh dan lemah dikungkung penyakit level stadium akhir . Alisya-nya yang sebenarnya telah lemah, namun memutuskan menggenggam cinta yang lebih sempurna. Apakah Atika tahu bagaimana menggugunya Alisya memohon Tuhan untuk takdirnya bersama Ibrahim? Di atas rasa cinta segitiga, ada rasa yang lebih besar yang akan memudarkan itu semua dan menyatukan tanpa perlu banyak berkata lagi. Cinta yang sempurna.

    Sisi kemanusiaan juga digambarkan melalui sosok ibu Ratih. Saat Ika membawa flash back kisah Alisya, Ibrahim dan Atika,aku tak kuasa menahan airmata. Aku diingatkan realita anak-anak senasib seperti mereka. Itu ada di sekeliling kita dan butuh kita untuk melimpahinya dengan kasih sayang . Aku mendadak ingin seperti Bu Ratih yang penuh pengorbanan. Sungguh pandai Ika menggugah hati pembacanya.

     Di Sinabung juga Atika bertemu Guntur yang sejak awal sudah memberi perhatian padanya. Bagaimana nasib Guntur?Apakah nanti Atika dipertemukan dengan Ibrahim?apakah mereka akan dipersatukan? Kenapa Alisya membuat Atika mesti menjauh dan memilih mengalah?

    Membaca novel ini juga membawa kita merenung. Bencana silih berganti dan bermacam bentuknya selayaknya membuat kita terjaga, dimanapun kita mesti memberi peran dalam bentuk yang kita bisa. Sebagaimana kata sosok Bang Ben :di bumi ini tak pernah ada bencana alam, yang ada adalah bencana kemanusiaan.  Sebab alam memiliki caranya sendiri untuk merawat diri dan kondisi di sekitarnya , seharusnya kita belajar dari alam bagaimana ia menjaga kelestarian, keselarasan juga keseimbangan. 

Aku juga sepakat dengan pengantar di awal oleh penulis Hujan Tarigan, bahwa terkadang bencana adalah cara alam menyembuhkan dirinya. Mungkin debu vulkanik Sinabung ini adalah obat luka yang dapat menyuburkan tanah Karo sebagai sentra pertanian? ilmu pertanianku menyatakan bahwa debu vulkanik gunung berapi sangat baik menyuburkan lahan pertanian. Sekarang ia bencana, namun puluhan tahun lagi ia adalah sumber daya alam bagi anak cucu? mungkin?wallahu'alam..karena sebagai manusia kita mesti banyak bertanya hikmah dari sebuah kejadian dan menyadarinya sebagai cobaan juga anugerah Ilahi.

    Tabik Ika! my sister fillah...Bukumu mengobati rinduku akan sosok penuh semangatmu yang Ika gambarkan lewat sosok Atika. Namun Ika -ku orangnya tegas dan gak melow sih..hahhaha...

Ditunggu karya slanjutnya ya Ika sayang... 

   

Senin, 10 Agustus 2020

setahun ayah berpulang

Hari ini 11 Agustus 2020 , tepat sstahun sudah ayahanda berpulang ke ribaan Sang Khaliq. 

Tepat 10 Dzulhijjah dini hari. Di hari yang baik, saat takbir mulai dikumandangkan umat Islam memperingati idul adha. Kemarinnya ayah dan keluarga masih menuntaskan puasa arafah. Musibah malam takbiran saat anaknya yang ke 5, Khairul Angkat ditabrak motor ketika berangkat sholat maghrib ke mesjid sesudah buka puasa bersama.
Ayah mungkin syok....melihat anaknya ditangani dokter, begitulah ayah kami...dia pada dasarnya bersifat mudah trenyuh, mudah kaget dan sangat sayang pada semua anaknya.
Malam itu ayah sudah mengeluhkan sakit dada...dengan kondisi baru berbuka puasa,dia belum makan dan langsung dihadapkan pada kejutan kejadian itu.
Ayah menghadap Allah saat bangun tidurnya. InsyaAllah husnul khatimah, kata mamak dan adik-adikku yang melihat ayah menghadapi sakaratul mautnya.
Hanya sekejap..ya...hanya sekejap ia telah terdiam tanpa sempat berpesan apa-apa lagi.
Hari itu juga...aku yang tinggal di rantau,tak bisa mengejarkan waktu hingga ayah dimakamkan.
Aku tiba tepat setelah ayah dimakamkan.Aku hanya bisa memeluk batu nisannya.
Sungguh...hari itu adalah hari dimana orang yang ramai di pekuburan mengasihani aku.Dan ketahuilah bahwa  aku paling mengasihani diriku sendiri. Hingga saat ini jika pikiran tiba...sering aku berfikir..bagaimana seandainya..kenapa begini..kenapa begitu...kenapa aku, yang katanya anak perempuan tertua yang disayanginya tidak bertemu dengannya di hari terakhirnya. 
Aku selalu mengalihkan fikiran itu dan selalu mencoba ikhlas. Mengucapkan namanya dalam setiap do'aku masih belum bisa mengalihkan haru dan sedih.
Ikhlas...ikhlas...dirunut dari semua peristiwa menjelang kepergiannya, ayah telah bersiap untuk istirahat .Rencana ke  Baitullah menunaikan haji telah mereka jalani.Ayah memang mesti istirahat, agar gangguan, fitnahan, makian yang diterimanya selama ini tak membuat hatinya sedih lagi dan menambah sirat ketuaan di wajahnya.Mengingat itu semua aku faham akan skenario Allah. 
Aku sayang ayahku...
Setahun sudah, kami hadir di makam ayah berkumpul bersama.Kami yang kehilangan suami,ayah,pun mertua,poli hanya bisa mengusap nisannya dan mengirimkan do'a untuknya.
Allahummaghfirlahu warhamhu wa afihi wa'fuanhu

Sabtu, 18 Juli 2020

moment bukaan

Melihat video syahdu proses kelahiran anak artis Roger Danuarta,aku seketik terharu.Mengenang betapa indahnya momen menjelang kelahiran anak.Baik yang normal maupun melalui proses operasi.
Memang kemajuan teknologi dn kreativitas,menambah seringnya momen seperti itu diabdikan untuk kenangan.
Aku yang menyadari,kelima anak kami lahir ,tak ada satu fotopun sesaat mereka dilahirkan.Apalagi menghrap foto momen Inisiasi menyusu dini atau ditempelkan di dada ayahnya seperti bayinya Roger.Huuu...hu...
Kemarin aku bilang ke suami:Bi lihat ni...manis kan??kenapa dulu umi melahirkan gak pernah abi fotokan?
Si abi cuma jawab:ah..iya ya..hmmm..kalau gitu melahirkan aja lagi,biar kita abdikan,kita foto dan video.

Hmm..jawaban telak yang membut aku mikir....

Sungguh sebuah percakapan manis di 16 Tahun usia pernikahan.wkwkwk....

18/Juli/04-18/Juli/20

Jumat, 03 Juli 2020

My lovely July

Welcome July!!

Juli tahun ini tepat 16 tahun usia pernikahan kami, Muhamad Yasin dan Fitri Sari Angkat
Usia yang jika diibaratkan anak remaja,sedang manis-manisnya gitu..
Tapi lain jika dipakai memaknai usia pernikahan,menjelang 20 tahun adalah masa-masa yang akan penuh warna dan berdinamika.
Mengingat usia pernikahan ini secara langsung mengingatkanku pada masa awal menikah.Keputusan menikah yang muncul karena ada orang yang berkenan melamar.Dan aku diberi ketetapan hati oleh Allah untuk mengiyakan.
Aku wisuda dari Universitas Andalas April 2004.Yang tergambar rencana dalam pikiranku adalah secepatnya mencari kerja.Dosen pembimbingku pun pernah menawarkan untuk mengabdi di LSM nya sesudah aku tamat.Pokoknya dalam pikiran focus untuk mengabdi dan  menghasilkan uang.
Apakah tak terpikir jodoh? terpikir juga sih...tapi menikah dalam waktu dekat bagaimana bisa,aku tak punya pacar saat itu. Dan selama merantau di Padang tak pernah pacaran.Yang kubayangkan,aku akan ketemu jodohku beberap tahun kemudian lah.
Ternyata takdir Allah berkata lain....disitu aku merencanakan mencari kerja,di situ pula ada tawaran menikah. Seorang senior yang sedang mencari istri. Dengan kriteria mau diajak tinggal di dalam hutan! Apaan cobaaa...
Kami dicomblangin oleh temannya,seniorku juga di pertanian
Kan lucu ya kriterianya. Sesudah menikah baru aku tau arti kriteria itu.
Dia bekerja di perkebunan sawit yang terisolasi dari keramaian.Dia ingin mencari istri yang bisa mendampinginya hidup di sana.Dan dipikirkannya anak fakultas pertanian cocok kali ya..kan petani! hi..hi..maka dicarilah akhwat dari faperta.Dan kriteria berikutnya tentu saja istrinya harus yang belum bekerja tetap.a.ka.pengangguran (sorry.sarkasme..ehm..)
Yah..gimana juga mau mencari kerja di tengah hutan gitu?
maka dicarilah akhwat yang baru wisuda,kan statusnya masih pengangguran.
Nah..mungkin inilah jalan dari Allah
Saat mendapat tawaran itu melalui guru ngajiku, aku bawa istikharah.Hanya Allah yang bisa menunjuki hatiku,mana yang terbaik.Karena dia seniorku di Faperta,aku mengenalnya hanya dari luar.Pribadinya da keluarganya sama-sekali aku tak tau.Bagaimana dengan cinta?namanya juga ga kenal dekat,gak pernah pacaran belum ada rasa cinta. Dengan info yang sedikit itu,aku memilih jalan mengiyakan dengan do'a:jika dia jodohku maka proses ini akan lancar.Jika tidak jodoh,ya ada aja kelak yang membuatnya gagal.Dah gitu aja
Kami pun ta'aruf...dengan didampingi guru ngaji.
yang lucu dan kuingat sampai sekarang,saat ta'aruf dia bilang ingin istri di rumah aja gak bekerja.Dan aku iyakan..lucu juga aku ini...niat awal mau cari kerja eh malah setuju untuk tidak bekerja.Tapi kita yakin,yang membolakbalikkan hati adalah Allah.Yang penting  niat menikah karena petunjuknya.
Ternyata lancar hingga ke pelaminan..hingga saat ini sudah 16 tahun dengan lima anak yang shaleh-shalehah.Dan sampai saat ini ternyata aku memang full jadi ibu rumah tangga,seperti yang kuiyakan 16 tahun yang lalu.Hmm..
Untuk masa depan,kita tidak tahu bagaimana,sampai dimana jodoh kita.Yang penting kita saling memahami diri sendiri,memahami pasangan,memahami jalan Allah dan berbuat terbaik agar bisa berjodoh hingga ke Syurga.Aamiin.
Kenapa di awal kukatakan berdinamika?karena di masa ini adalah dimana anak sudah membesar.Mereka sudah mandiri.Sebagian sudah tinggal di asrama pesantren. Kerepotan mengurus balita sudah mulai berkurang.Jadi,yang sebelumnya topic kita didominasi pengasuhan anak balita,sekarang kita akan memasuki mendampingi 5 anak remaja.Dan itu membuat kami harus berteman lebih akrab lagi agar dapat menjadi teman yang pas untuk 5 remaja kami nantinya.
Semoga Allah lancarkan perjalanan biduk rumah tangga ini hingga ke JannahNYA.
AAmiin
Our Wedding Anniversary
July,17th

Rabu, 17 Juni 2020

Mengisi waktu

Wabah Covid-19 membuat kita menghabiskan waktu lebih banyak di rumah.Segala kegiatan yang biasanya dilakukaan di luar terpaksa dikurangi.Jika tidak terlaalu perlu,sangat riskan untuk keluar.Selain beberapa kegiatan yang ditunda, ditiadakan,tempat wisata ditutup,aku juga terasa malas berkeluyuran tanpa alasan urgent.Karena apa?di jalanan terutama batas kota selalu ada pemeriksaan kesehatan membuat aku makin terasa malas.
Makin lama di rumah terasa makin mati gaya.Tidak sepenuhnya juga betul.Karena aktivitas rumah tangga terasa tidak ada habisnya.Tapi aku merasa, selain family time dengan suami dan anak-anak apalagi yang bisa kulakukan yang bisa menambah kualitas pemikiranku?
Alhamdulillah...kondisi bencana ini memberi hikmah yang besar.Semua kegiatan beralih ke dunia maya.Seminar,workshop,rapat dilakukan secara online.Melalui aplikasi Zoom,Googleroom,Webex dan yang lainnya.Aku sebagai insan yang baru bersemangat di dunia pendidikan terutama pendidikan anak usia dini  seolah menemukan kamar-kamar yang baru terbuka berisi harta yang sangat berharga.
Di Instagram, Facebook,Grup Telegram,grup WhatsApp banyak beredar flyer acara-acara yang dapat kita ikuti secara online.Umumnya gratis,cukup mendaftar online dan bersedia menyediakan waktu dan modal semangat.
Bertubi-tubinya rangkaian acara yang terbuka untuk diikuti,membuatku kadang merasa 'gila'.Saking senangnya githu lho....Aku mendaftar banyak acara namun terkadang lupa pas hari- H,hahaha...rugi sih sebenarnya.Itu namanya modal semangat aja tapi manajemen waktu kurang (jangan ditiru)
Selain acara yang berkaitan dengan anak dan pendidikan anak..aku juga semangat mengikuti klub buku.
Sejujurnya,klub buku ini aku ikuti dari grup pengelola TBM se-Indonesia.Melihat buku-buku yang dibaca dan didisukusikan sangat menarik minat!
Contohnya,senin kemarin klub membaca dan membedah buku 'Arus Balik'Karangan Sastrawan Pramudya Ananta Toer.
Buku Pram yang kami koleksi di rumah,sudah aku baca semua.Tapi beda kesannya saat buku itu kita baca lembar-per lembar,secara bergantian sesudah itu didiskusikan.Membuka wacana, tentu saja!
Yang paling membuat aku'gila' acara kumpul sama sastrawan kayak gitu sangat aku idamkan.Walaupun aku bukan sastrawan,tapi mendengar mereka berdiskusi,berpuisi,aku sangat sukaaa...kemampuan anugerah literasi yang sangat aku idamkan.
Ada lagi Lomba cerpen,lomba puisi secara online dan bertaraf nasional.Percaya tidak/aku juga daftar untuk ikut hohoo...tapi apakah aku akan semangat juga untuk menghasilkan dan mengirimkan karya??itu dongkrak semangat yang  coba aku pupuk.
Semangat! semoga kondisi ini mampu memberikan warna dan ilmu bagiku sehingga tidak termasuk golongan begitu-begitu saja,padahal banyak hal yang bisa dilakukan.


 

Senin, 01 Juni 2020

Untuk apa perbedaan?

Throwback pada tahun 1998
Aku harus hijrah ke Padang,Sumatera Barat karena qadaruLLAH mendapat kesempatan kuliah di Faperta Universitas Andalas.Daerah baru bagiku,namun kata buku dan info dari ayah mamak bahwa Padang adalah daerah islami.
Aku dipertemukan dengan saudara yang mengajakku tinggal di kontrakan bersama yang dinamai 'wisma'.
Kesan pertama aku tinggal di sana sangat baik dan berharap aku betah tinggal lama. Kami bersepuluh tinggal di 5 kamar.Rumah itu terletak di antara rumah penduduk yang dapat dikategorikan wilayah perkampungan asli penduduk. Tetangga kanan -kiri wisma ramah dan perhatian. Wisma memiliki program-program harian untuk menamba ruhiyah. Bagiku yang melaksanakan islam standar tentu hal yang bagus.Terkadang aku suka terkadang aku bosan dan terkadang aku tertekan akan program rumah disamping kegiatan kampus yang padat.
Untung para senior baik semua dan membiarkan kita mengikut secra perlahan sebisanya.Tidak memaksa. Namun aku segan pastinya
Oiya, sebagai anak baru di sana,aku tidak sendiri.Ada seorang lagi akhwat yang dari Medan namanya Desi.Dibanding aku, Desi sudah aktif di organisasi keislaman sejak di SMA. Dia  baik,semangat,akrab,lucu,jilbabnya lebar namun suka bergaul. Akupun mudah membaur dengan Desi,walaupun sebagai sesama anak baru kadang ingin lebih diperhatikan senior.Biasalah yaa..
Akupun merasa bahwa aku beda dengan Desi.Selain jilbabnya yang lebar aku apalah.Jilbabku seperut saja walupun menutup dada. Kalau  di kampus aku ikut mentoring agama islam, Desi sudah ikut level di atas itu. Dia sudah digabungkan ke grup yang isinya akhwat yang sudah pernah mentoring di SMA. Mereka beragam asal daerahnya.
Kehidupan pun berjalan lancar dan perlahan aku hijrah dalam hal pakaian. Celana sudah berangsur kuganti dengan rok supaya agak 'girly'.Baju ketat sudah perlahan dikurangi memakainya. Karena seiring aku tahu seperti apa syarat pakaian seorang muslimah. Kehidupan di wisma mnenyenangkan.
Namun tak sampai setahun, aku terpaksa pisah rumah dengan Desi.
Desi temanku yang semangat ikut kajian lebih mendalam akan ruhiyahnya dan berimbas pada penampilannya. Jilbabnya yang lebar tak lagi berwarna putih seperti ciri khasnya .Sekarang sudah berwarna gelap dan semakin panjang.Kala kami berbarengan berangkat ke kampus dia sering menutupi muka selain matanya dengan jilbab.

Liburan kenaikan tingkat, aku pulang ke Sidikalang.Sebulan lebih di sana ternyata ada kejadian di wisma.Saat aku kembali, Desi sudah pindah rumah.Aku kaget kenapa dia tidak pamit dan apa alasannya pindah?Perlahan aku tahu ternyata Desi sudah memutuskan pakai cadar.
Aku agak shock pastinya, bukan dengan pilihannya namun kenapa cadarnya menjadikannya terasingkan?banyak tanya di pikiranku saat itu.

Maklum,walaupun asal tinggalku Kabupaten Dairi Sumatera Utara  daerah mayoritas nasrani namun perbedaan di sana bukanlah hal yang menjauhkan pergaulan. Di kota besar seperti Kota Medan banyak kita temui 'tipe'pakaian muslimah sesuai fikih yang ia fahami dan jalankan. Dari jilbab yang standar menutup dada dan bahu, bercadar/niqab,bahkan burqa yang tertutup hingga mata. Semua ada dan mudah ditemui di kampus-kampus. Di Sidikalang juga ada.Aku bertetangga dengan keluarga yang kajian Jama'ah Tabligh dimana semua anak perempuannya ber-niqab. Dan itu tidak menghalangi mereka bersosialisasi dengan sesaama muslim bahkan non-muslim. Aku pun dekat dengan mereka. Itulah perbedaan faham masing-masing yang boleh kita sebarkan pada orang dengan cara ahsan  namun tidak memaksa dan tidak menjauhi jika ditolak.Bukankah begitu? itulah prinsipku pada masa itu sebagai anak baru tinggal di wisma. Dengan perbedaan agama saja kita bisa hidup berdampingan kenapa dengan saudara seiman hanya karena masalah pilihan pakaian?Apalagi ini di Padang lho..yang masyarakatnya mayoritas islam. Kenapa tidak bisa menerima?
Seingatku,aku pernah protes tapi lebih sering protes dalam diam. Namun kecewaku lebih kepada temanku Desi tidak tinggal dengan kami lagi.Dia pindah ke wisma yang sama kajian dengannya.

Perlahan aku memahami alasan para akhwat seniorku. Karena di Sumbar ini dahulunya pernah terjadi kejadian yang mencoreng citra orang bercadar sehingga dianggap sesat. Ditambah lagi rumah wisma kami di tengah warga yang masih trauma kejadian itu dan protes. Akhwat memikirkan bagaimana efek tidak sampai meluas. Di wisma pun sudah mulai tampak beda dia dengan pola akhwat wisma.Aku tak tahu persis kejadian apa itu namun tak kurang tak lebih masalah fikih yang berbeda.
sebagai anak baru yang  banyak tanya akupun berusaha tak memperdulikannya lagi.
Namun di kampus aku masih ketemu Desi karena kami sering kuliah di kelas bersebelahan. Bagiku itu lah drama dan realita yang terpaksa kualami sehingga menimbulkan tanya dan memberi pemahaman baru. Masalah mau melaksanakan yang mana ya tergantung pemahaman dan keyakinan kita.

Akhir pertemuanku dengan Desi ternyata terlalu cepat terjadi. Desi memutuskan berhenti kuliah dan pulang kampung ke Pangkalan Susu,kampung halamannya. Dan sampai kini aku tak pernah bertemu,kucari akunnya di facebook namun tak kunjung bertemu. Suara dan ketawa Desi masih terngiang di telingaku.
semoga suatu saat aku bisa ketemu Dessy Wahyu Diana.


Yang abadi dalam do'aku

 Kepada lelaki yang telah berada di sisiku 21 tahun, aku bercerita tentang seorang lelaki yang selalu di hatiku selama 46 tahun ini. Dia aya...