Jumat, 09 Desember 2022

Perdana setelah 18 tahun

 'Apa sih enaknya naik gunung? sudah capek naik eh... turun lagi."

Itulah kesan awalku saat diajak suami naik gunung.

Awal menikah di tahun 2004, dia yang hobi mendaki entah kenapa mau mengajakku yang agak pemalas  ini.

Aku ingat ajakan itu sudah ada ketika baru sebulan kami menikah.Mungkin maksudnya ingin se frekuensi,hi.hi..

Eh, bulan depannya ternyata aku sudah positif hamil , melahirkan, punya bayi dan tak sampai 2 tahun sudah hamil lagi!

Dan begitulah hingga  18 tahun kemudian. Hingga anak-anak telah berjumlah 5 orang.Sekarang si bungsu sudah berusia 5 tahun.

Sedangkan dia tetap dengan hobinya. Setidaknya 2 kali setahun dia mendaki, tentu saja bersama teman dan tim nya.

Aku masih setia sebagai tim motivator (ciee...) dan penyiapan logistik dari rumah (Maksudnya, masak teribol - tau kan apa itu teribol?-dan ransum lainnya) juga sebagai orang yang memantau dia apakah pulang dengan selamat.

Nah, kenapa tiba-tiba dapat hidayah?Aiihh..

Itu karena musim bunga yang melanda sejak tahun 2020.

Wabah Covid-19 membuat kita harus stay di rumah. Untung ada internet. Kegemaran baruku adalah bertanam bunga. Termasuk bunga Anggrek.

Keseringan googling dan nonton Youtube, aku jadi keranjingan beli anggrek. Beli yang hampir berbunga dan bahkan botolan pun kubeli. Tapi yah begitulah, ada yang bertahan dan ada yang gagal.

Nah..rasa penasaran muncul, apakah di hutan ada anggrek?Kata suami, ada.

Itulah motivasi utamaku di samping khayalan dari semua cerita dia tentang gunung.

Sepertinya harus melihat langsung!

Juni 2022, itulah perdana aku mendaki gunung. Dengan suami sebagai personal guide -ku yang memilihkan persiapan bagi pendaki pemula ini.hihi..Ke Marapi saja, katanya, ramah bagi pendaki pemula.

Mobil bisa mendaki hingga ke posko tempat kita melapor. Dari Koto Baru sekitar setengah jam kita akan melewati jalan kecil pas mobil di tengah ladang sayur.Sesudah melapor ke Posko ,kami pun mulai mendaki.


Siapkan minum yang cukup. Pengalamanku setia membawa Pocari Sweat, terbukti lebih bertenaga.
Letih? berhenti dulu...ngopi...



Karena gak faham cara pasang tenda, aku hanya jadi penonton saja.


Selfi ,senangnya ketemu edelweis ,walaupun belum mekar,tetap indah.



Alhamdulillah..dari lokasi posko menjelang tengah hari, kamipun sampai di lokasi perkemahan (cadas) sekitar lepas asar. Sesudah memasang tenda, kamipun memasak nasi dan makan bekal. Malam terasa begitu cerahnya.Namun saat terbangun di dini hari, angin bertiup kencang,terasa ada badai.

 Sesudah shalat subuh dalam tenda, kami menunggu saat yang tepat menuju puncak.Namun  angin masih kencang dan kabut tebal. Jam 7 kami mencoba melangkah menuju puncak melewati batuan cadas di tenbgah kabut tebal.Namun belum sampai separuh jalan kamipun memutuskan berhenti. 

 

Sebenarnya aku yang minta. Karena tujuan ke puncak ingin melihat pemandangan,kalau kabut yaa mana nampak. Itu menurutku. Dan untuk menunggu kabut pergi kayaknya agak lama gitu .Oke deh,,.kita memutuskan turun lagi ke tenda. Sekitar jam 10 kami bongkar tenda dan turun untuk bersiap pulang.

Bagaimana fisik pendaki pemula berumur 42 tahun ini? hihi..Alhamdulillah masih diberi Allah kekuatan.

Kaki aman dari cedera (mungkin karena sering jalan kaki).Jantung aman.

Mungkin karena perjalanan hepi, sepanjang jalan aku hanya celingak-celinguk kanan-kiri-atas mencari jejak bunga Anggrek!

Dan baru tersadar bahwa anggrek hutan itu langka , beibi....Pastinya ada di bagian terdalam hutan yang masih terjaga habitatnya.Kalau jalur pendakian kan sudah jalur terbuka, ada juga sih tanaman hutan lainnya yang membuat pemandangan semakin takjub. Seperti pohon besar ini.

 

Yah..itulah hakikat menjelajah alam. Mengenal kuasa Allah dan membawa berzikir. Dan yang abadi dibawa pulang adalah kenangan dan foto untuk dipamerkan!

Selasa, 30 November 2021

Tahun ini, peringatan HGN luar biasa!

 DI akhir Oktober 2021, pak Emriko ,Kasi PTK di Dikpora Kota Pariaman menelpon.Tepatnya di sore hari tanggal 27 Oktober.

"Bu Fitri, untuk lomba apresiasi GTK Tahun ini kami mengutus bu Fitri untuk ikut ya, ikut dala kategori Pengelola KB/TPS/SPS"

"Kan lombanya bisa untuk semua GTK paak..diajak aja semua"

" Deadline pengiriman dokumen lomba tanggal 3 November, waktu tidak panjang,kita pastikan ibu ikut berpartisipasi. Saya kirimkan juknis lombanya"

"Siap pak"

Waduh..saat itu aku sedang disibukkan mempersiapkan gebyar bulan bahasa dari RKI PKS Kota Pariaman dimana aku sebagai ketua panitia.Kami mengangkatkan lomba baca puisi virtual dan Training For Trainer Berkisah dan dongeng tanggal 30 Oktober

Perintah Pak Emriko aku skip dulu,fokus..fokus..acara gebyar bulan bahasa.

Alhamdulillah acara RKI selesai dengan lancar.Barulah aku fokus mempersiapkan bahan.

Aku baca seksama juknis dan aku tonton ulang acara sosialisasi lomba yang diadakan secara daring oleh kemendkbud di Youtube.Dikupas dulu juknis supaya terarah konsepnya.

Alhamdulillah...dilancarkan Allah aku dalam menyiapkan syarat administrasi, naskah dan video yang berdurasi maskimal 7 menit yang di upload ke akun youtube

Bahan dikirim ..dan do'a pun dikirim kepada Allah SWT

Aku yang belum pernah ikut lomba serupa, entah kenapa sangat berharap bisa merasakan lomba ini hingga ke pusat.Karena yang lolos 20 besar akan dipanggil ke Jakarta untuk seleksi tahap 2 (presentasi)

Pengharapanku setiap hari aku bisikkan kepada Allah..kasih aku kesempatan Ya Allah..

Tanggal 16 November...Sore hari sesudah acara Musyawarah Daerah (Musda) HIMPAUDI Kota Pariaman selesai.Tugasku selama 4 tahun sebagai sekretaris selesai dihari ini..di tengah aku merenung sendiri.."Ting!" masuk sebuah pesan Wa grup yang baru dibentuk dimana aku dimasukkan ke dalamnya 

"Grup finalis apresiasi Pengelola KB/SPS/TPA 2021"

postingan pertama adalah sebuah surat undangan finalis, dimana namaku ada di sana sebagai salah satu dari 20 finalis!!

Allahu Akbar!!

Aku langsung sujud syukur saat itu juga..

Ya Allah..Engkau Maha Mengabulkan..

Aku langsung koordinasi dengan suami mengabari, berbicara terkait keberangkatan, dilanjutkan kounikasi dengan Pak Emriko, Bu Tati Sekretaris dinas, Pak Kabid,Pauddukmas Pak Kadis Dikpora

Alhamdulillah..tanggal 21/minggu aku berangkat ke Jakarta dengan persiapan dan hati yang sangat bahagia..Tak henti-hentinya bersyukur dan takjub atas kuasa Allah SWT

21-26 November ,kami diinapkan di Hotel Mercure,Ancol.Lebih bahagia lagi dong, karena perdana melihat Pantai Ancol dan wahana Dufan yang ada di sekitarnya.Dari lantai 7 Mercure dengan view laut,semua terlihat..namun karena Covid masih dihindari, acara juga padat merayap, jalan-jalan memang tidak masuk dalam agenda heee...Jakarta..panggil aku sekali lagi!!

Hari pertama sampai, langsung pembukaan dan pembekalan. Di Ballroom berkumpullah finalis yang terdiri dari 6 kategori lomba kali ini. Kategori kepala sekolah Tk,Guru TK, Pengelola KB/SPS, Guru KB/SPS, Pamong belajar dan Penilik.Tiap katgeori 20 orang.

Waw...se-Indonesia bersatu di sini.

Hari kedua/Senin, 22 November 2021, hasil undian, aku langsung dapat giliran ke-2 untuk tampil di hadapan juri Nervous? Tentunyaaaa...Ada 3 juri yang menilai peserta. Di tengah dinginnya AC ruangan itu, 30 menit di sana aku bersama juri ,ada rasa  hangat melingkupiku menambah rasa percaya diri walau awalnya  sedikit grogi.

Alhamdulllah bahan presentasi kusajikan dengan lancar,pertanyaan juri pun kujawab dengan lancar juga. Pertanyaan terkait pekerjaan sebagai kepala sekolah kan, jadinya yah menceritakan apa yang kita lakukan selama mengelola sekolah.

Juri pun baik-baik dan ramah kok! hehe..

Hari ketiga, membersamai teman yang tampil di hari itu.Kami menunggu di luar ruangan dan menyelamati teman seperjuangan yang baru keluar. Banyak cerita...yang lucu, yang mengharukan dan rasa akrab yang sudah mewarnai kita sejak dalam grup WA.

Sudut pandnagku pada saat itu, aku salut dan bangga pada mereka. Sesama pengelola lembaga, mereka masih muda, energik, semangat, bahan presentasinya bagus-bagus, perencanaan sekolahnya penuh inspirasi deh!

Aku lihat semua, aku tanya, aku ingat..karena salah satu tujuanku ke sini untuk menimba ilmu dari siapa saja .

Hari ketiga, tibalah saat pengumuman hasil penjurian. Kami memakai baju adat daerah masing-masing berkmpul semua di Ballroom.Acara dihadiri Pak Irwan syahril, dirjen GTK Pauud, sekdir

Dipilihlah 5 terbaik dari 20 finalis. Aku belum berkesempatan masuk ke dalam 5 terbaik itu, tapi aku melihat semua memnag terbaik deh!

Alhamdulillah...semua peserta sudah lega.

Hari ke empat, Kamis,25 November 2021, puncak peringatan Hari Guru Nasional

Pagi upacara di halaman Kemendikbudristek.

Siangnya kami sudah di Jakarta International Expo Kemayoran.DI sana berkumpul bersama ribuan guru dari kategori SMK,SD,SMP,SLB dan yang lainnya yang juga mengikuti penjurian di hotel berbeda.

Acara HGN dilanjutkan dengan kedatangan Mas Menteri Nadiem Makarim !! Yeay!! tak pernah terbayangkan akan bertemu langsung dengan menteri muda ini. 

MasyaAllah..pengalaman yang luar biasa..

Menteri berdialog dnegan para guru, dan berbincang inspiratif dengan guru dari beberapa daerah yang sungguh membuat salut!

Kita disajikan hiburan dengan datangnya Band Nidji, GIGI dan ada juga Omesh serta Okky Lukman sebagai pembawa acara.Jarang-jarang kan,aku ketemu artiss..hihi..

Sore kami pun pulang kembali ke hotel dan bersiap acara penutupan.  

MAlam kami menyelesaikan administrasi termasuk keuangan.

Terima Kasih Ya Allah..Kau beri aku kesempatan bisa hadir di tengah acara ini.Kau teguhkan kakiku di PAUD dengan caraMU.Tunjuki aku untuk lebih baik lagi dan semakin ikhlas ..Aaminn..

Kesempatang yang sangaaat berharga sehingga aku harus menuliskannya di sini.

Sudah diongkosin pulang pergi, diakomodasi di hotel 6 hari dan dapat uang pembinaan juga dengan jumlah yang membuatku semakin bersyukur.

Esoknya aku pun pulang dan membawa satu tekad, aku akan membagikan pengalaman berharga inikepada sesama rekan seperjuangan di Pariaman.


Kamis, 24 Juni 2021

Parenting

 Sudah lama aku berkeinginan melakukan tes StiFIn pada anak-anakku. 

Kamu sudah tau apa itu Tes Stifin?bagi yang belum pernah dengar, tes tersebut dilakukan untuk mengetahui kecerdasan seseorang melalui sidik jari dengan metode tertentu.

Penemuan metode tersebut itu sebenarnya sudah termasuk lama, dan aku tertarik lebih karena ingin tahu setelah membaca pandangan atau pengalaman orang yang telah melakukan.

Kesepuluh jari kita akan direkam dengan alat yang terkoneksi ke server pusat, yang akan mengidentifikasi sidik jari yang kita punya. tergolong ke dalam 5 kategori yang menmggambarkan cara berfikir otak kita. Setidaknya begitu kata penemunya ya..

Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling, Insting (STIFIN)

Suami telah melakukan tes ini 5 tahun yang lalu.

Dari 5 anakku, 2 orang kategori Thinking seperti ayahnya, dan 3 kategori Intuiting.

Dan aku satu-satunya yang Feeling...waw..waw...kenapa emaknya sendiri yang beda ya.??hahaha

Apa pentingnya bagiku mengetahui ini?tak lebih adalah untuk mengetahui pola yang dimiliki anak-anakku yang kuharap membantuku dalam memahami mereka.

Si Thinking adalah orang yang berfikir lebih kepada logika.Yang berperan adalah belahan otak Cortex kiri. Sehingga mereka lebih suka belajar terkait matematika dan sains, karena disana banyak peluang logis matematis.Lain lagi yang tiga si Intuiting yang kreatif dan visioner.

Mengetahui sebagian kepribadian mereka memang terlalu dini jika men'cap' atau men'judge' mereka  dengan vonis tertentu. Karena bagi kami biarkan anak melalui setiap sesi perkembangannya dengan alami. Orangtua hanya bertugas mengarahkan mereka dnegan terlebih dahulu memahami pola pikir, kebiasaan dan minatnya.

Aku si Feeling yang katanya mampu mengikat keluarga ini dengan cinta, merasa jalan ini akan warna -warni dan butuh waktu untuk belajar dan belajar lagi sebagai ibu.

Minggu, 20 Juni 2021

Tentang Pilihan

 Sebuah keputusan besar terpaksa kuambil di awal tahun ini.

2021 memang penuh catatan bagiku.

Semua serba mendadak,datang menyerbuku bagai laron menyerbu cahaya.Akupun tak tahu entah itu takdir yang harus dijalanai atau sebuah pilihan atas kekurangsanggupan.

Akhir tahun kemarin adalah akhir tahun yang membahagiakan saat aku diwisuda dari STIT Syekh Burhanuddin Pariaman setelah perjuangan 4 tahun tepat.

Beberapa rencana telah terpampang di depan mata, aku bersiap untuk mendaftar Program Magister Guru PAUD di UNP,kampus incaranku berikutnya.

Saat amanah itu datang, muncul satu hentakan lagi di hadapanku. 

Anak bungsuku yang selama ini perkembangannya telah meresahkan kami, kembali kami bawa ke pusat perkembangan anak. Klinik MLC di Jati,Padang.Tahun kemarin sudah pernah kami bawa namun karena wabah covid membuat rentan ke pusat kesehatan kami tunda.

Di usia hampir 4 tahun, Azzam kami belum bisa berbicara. Mengingat Zaki, kakaknya si nomor 3 juga mengalami keterlambatan bicara membuat kami merasa tidak terlalu masalah.Mungkin waktu yang akan menyembuhkannya.So sad..atas pemikiran bodoh kami ketika itu.Karena hingga kini klas 5 SD Zaki masih mengalami kesulitan mengucapkan kata karena fisiknya yang menyebabkan gangguan tidak pernah kami terapi.

Kasus Azzam beda, selain belum bisa sama sekali berbicara, dia juga mengalami kekurangan fokus dan beberapa gejala hambatan tumbuh kembang. Materi yang kudapat selama kuliah, rasa bersalah atas  abangnya dan benturan rasa bersalah lainnya mendera diriku khususnya.Dan rasa itu semakin lengkap begitu diagnosa akan Azzam kami terima. Setelah menemui dokter anak, mengikuti tes BERA untuk menguji pendengarannya ( di Sentra Pendnegaran AURIS,Purus ,Padang) bisa disimpulkan gangguan Azzam sejenis autis.Namun Alhamdulillah masih taraf ringan.

Awal tahun itu   adalah masa terendah akan motivasiku. Entah kenapa, aku menyelahkan diriku sendiri. Tampak hal lainnya Azzam normal, daya ingatnya bagus dan fisiknya tidak masalah. Dia yang tampaknya biasa saja namun jawaban kenapa selama ini dia cenderung  aktif berlebihan bukan sebatas perkembangan normal. Dia tidak faham akan perintah, dia tidak mau berteman.

Saat itu aku hanya berpusat pada diriku.Aku menganggap orang lain tidak perlu tahu karena akulah sumber masalahnya.Semua bagiku tidka penting pada masa itu. Sesudah 4 orang anak sebelumnya, yang ini menyisakan kekhawatiran berlebihan.

Aku menolak amanah besar yang diberikan partai padaku dengan penuh kesadaran.Aku tak peduli apa kesan beberapa orang, yang kutau bahwa aku tak akan sesuai dengan tempat itu dan masih banyak orang lain yang layak menjalankannya dan tentu lebih amanah. 

Akupun memutuskan membatalkan rencana kuliah melanjutkan program magister.Mungkin belum masanya, begitu pikirku.

Karena hal ini masih bisa dihadapi dengan sikap wajar, aku pun wajar saja menyikapi itu namun dengan perasaan campur aduk masa itu. Aku dan suami yang memang selalu berdua membawa Azzam bolak balik ke klinik di Padang sepakat  mengikuti saran dokter mengikuti terapi Sensori Integrasi. Karena masalah awal Azzam tampak pada inkonsistensi pemahamnya. terapi SI ini direncanakan 8 kali pertemuan kelak akan dilanjutkan dengan tahapan Terapi Wicara (TW)

Dokter memberi pilihan tempat terapi. Sesudah mendapat kabar di rumah sakit yang meyani BPJS terapi harus masuk daftra tunggu, kami memilih terapi di klinik MLC yang sedang ada jadwal kosong setiap hari Kamis dengan konsekuensi kami kesti ke Padang setiap hari Kamis siang.Itupun kami sanggupi.

Alhamdulillah terapi Azzam berjalan 2 bulan sejak Februari hingga awal April (karena sempat absen 2 kali kunjungan).Terapi berhenti karena akan memasuki bulan Ramadhan, yang membuat kami susah ke Padang karena 2 orang anak lagi tinggal di rumah. 

Perkembangan selama terapi Sensori Integrasi dan diiringi minum obat, Alhamdulillah beberapa kata telah terucap dari mulut Azzam.Dia seiring waktu semakin banayak mengucapkan kata dan bisa mengikuti lagu yang sering didengarnya di Youtube.

Sampai saat ini, kami hanya memaksimalkan dengan mendampinginya dalam berkata-kata.Aku menjadi sering bernyanyi bersamanya, karena Azzam suka menyanyi, mengulang kata yang terucap dari kami.

Pilihan Terapi Wicara belum kami lanjutkan karena haru konsultasi lagi ke dokter, serta mencari tempat terapi yang dekat saja.

Semoga Azzam semakin pintar.Aamiin..


Minggu, 08 November 2020

Demam bunga

 Demam bunga, tepatnya tanaman..melanda emak-emak akhir-akhir ini. Tampaknya masyarakat butuh hiburan di tengah situasi pandemi yang megharuskan kita masih banyak beraktifitas di rumah.Media sosial berperan memberi andil demam ini. Semakin viral maka semakin demamlah kita semua.Bunga yang biasanya terlantar pun kini segar karena makin diperhatikan si empunya.Tanaman keladi yang memang ramah tumbuh di iklim indonesia makin naik daun.Ada yang harganya jutaan (kata media sosial) entah iya entah tidak.Siapa yang membeli sampai jutaan/mungkin artis atau orang berduit yang juga turut terkena demam ini. Kalau yang duitnya sedikit atau sayang menghabiskan duitnya untuk beli bunga,bisa terjun ke semak atau minta bunga tetangga atau kawan.Yang penting perbanyak silaturahmi dan saling berkunjung ke rumah..niscaya bunga kita di rumah akan bertambah pula.

Tak ada yang salah dengan demam bunga ini. Sisi positifnya bagi yang jualan tanaman pastinya akan mengeruk untung.Yang jualan pupuk,kompos apalagi rak bunga kini sedang memanen.Dan yang awalnya tak pernah bertukang,kini pun sudah pula membuat dan menjual rak bunga.

Rumah orang terlihat meriah dan berwarna-warni.Bunga-bunga itu pasti bahagia.Jika mereka bisa berbicara mungkin mereka bersyukur pada Allah dan berharap demam bunga ini tidak reda

Malamang di Pariaman

 Tak terasa waktu sudah memasuki penanggalan 12 Rabi'ul Awal di kalender hijriyah,bertepatan dengan tanggal 8 November kalender Masehi.Bulan ini adalah bulan kelahiran Baginda Rasulullah Muhammad SAW. Sebagai manusia kita dinasehati utnuk selalu mengambil ibrah dari setiap kejadian. Begitu pula dengan peringatan kelahiran sang suri tauladan atau maulid Sang Nabi.

kearifan lokal yang ada di Sumatera Barat umumnya dan Pariaman khususnya, memperingati maulid nabi dengan acara Malamang/memasak lemang. Makanan lemang mungkin kita sudah tahu karena makanan dari ketan yang dimasak dengan bambu secara dipanggang ini adalah makanan yang umum ada di beberapa daerah di Indonesia. Namun Malamang di Pariaman tidaklah sekedar memasak lemang namun juga dirangkaikan dengan kegiatan lain secara kolosal.

Kegiatan Malamang diangkatkan oleh suatu kenagarian atau desa dan umumnya diadakan di surau/masjid.Semua warga akan terlibat menyumbang lemang dan jamba ke surau.jamba merupakan paket makanan yang umunya terdiri dari nasi, asampadeh ikan, gulai ayam kampung, kacang panjang,terung diberi sambal cabai dan yang lainnya.Makanan tersebut akan ditata sedemikian rupa di atas tempat dari kayu lalu dibawa ke surau beserta lemang yang telah dibungkus kertas koran atau kertas warna-warni. Puncak acara malamang diawali dengan salawat dulang oleh orang siak dan ketika tamu sudah berkumpul maka acara makan-makan akan dimulai.

yang menarik dari acara Mlamang ini adalah keramain yang menyertainya.Anak-anak akan memenuhi halman surai,ditimpali suara para pedagang yang menjajakan dagangannya.

Kamis, 01 Oktober 2020

Dimanakah kamu saat gempa 2009 di Sumbar?

Kenangan heroik tentang ayahku yang selalu membekas dalam ingatan.

Flashback ke 30 September 2009 di Desa Marunggi Kota Pariaman.

Hari itu berjalan seperti biasa.sekitar jam 5 sore , dimana anak-anak bermain di halaman, orang-orang duduk bercengkrama menunggu maghrib menjelang.Kami yang masih tinggal di rumah mertua telah memiliki anak 3 orang.Si sulung Wafa  berusia 5 tahun,Jundi 3 tahun dan Zaki saat itu baru berusia 6 bulan. Wafa dan Jundi saat itu bermain bersama anak tetangga.Sementara suami dan mertua duduk mengobrol di teras. Aku menggendong si kecil sambil menonton berita sore di dalam rumah seperti biasa.

Mendadak seketika bumi berguncang hebat dan terdengar suara gemuruh.Kami yang tinggal di daerah rawan bencana sudah terbiasa waspada langsung berhamburan.Aku menggendong anakku ke luar rumah.Sesaat aku keluar pintu,dinding rumah di sebelah pintu ambruk jatuh,debu pun berhamburan.
Kami yang panik hanya duduk di halaman .Anak-anak pun menangis cemas.Kami spontan berzikir: Laa ilaha Illallah!!!
Gempa reda setelah beberapa menit.Bagian dapur rumah sudah ambruk tak berdinding lagi.Ada yang pergi ke tepi pantai yang hanya berjarak 200 meter dari rumah,untuk melihat apakah air surut  sebagai pertanda tsunami akan menerjang.
Tapi keputusan tercepat adalah tidak perlu menunggu lama,kami harus mengungsi lewat jalur evakuasi.
Dengan mobil tetangga,kami mengutamakan anak-anak dahulu.Pemukiman kami termasuk padat dan tetangga kami adalah satu kaum sepersukuan.Orang dewasa bergegas pakai motor.Aku termasuk ke dalam pasukan naik mobil bersama anak-anak.Mobil kijang tetangga itu dipenuhi sekitar 15 orang anak.Akupun tak ingat jelas tepatnya.
Kami menuju ke daerah Santok.Sepanjang jalan tampak beberapa rumah sudah bersujud,ambruk,retak,hancur di antara orang-orang yang panik.
Kami menumpang di teras rumh seorang teman.Hari semakin gelap, hujan pun turun,mati lampu...dan anak-anak menangis!
Anak yang kami bawa ada yang tidak jelas dimana ayahnya,ibunya,kakaknya..pokoknya kami semua berkumpul menangis.Kecuali aku tentunya..Aku berusaha tenang,karena jadi kepala pasukan.
Makan malam kami disediakan tuan rumah yang baik hati. Jaringan telepon mati total.Pak tetangga kembali ke kampung untuk memberitahukan keberadaan kami.Malam kami lalui dengan cemas.Waspada gempa susulan,kami hanya berkumpul di teras.Beberapa tetangga menyusul berkumpul.Isu-isu pun berseliweran,katanya tsunami sudah naik,rumah hancur lebur dan yang lainnya.
Alhamdulillah malam itu ditengah kepanikan bisa kami lalui dengan selamat.
Paginya..karena dirasa aman dan gempa susulan kecil saja,kami berangsur pulang
Mendapati rumah yang hancur setengahnya.
Hari pertama..hari kedua..listrik masih mati,jaringan internet belum aktif.Hari ketiga aku baru dengar kabar bahwa Kota Padang kondisinya parah.Info dari tv di warung yang punya genset.Pusat gempa ternyata di Pariaman.Kerusakan di Pariaman juga banyak.Namun di Padang bangunan bertingkat banyak yang ambruk,hotel,mal,rata dengan tanah.
Suasana kacau tersebut ditonton oleh ayah dan mamak di Sidikalang.
Perasaan mereka pasti kacau meliht berita.Karena aku dan keluarga di Pariaman,dan sihah adikku yang kuliah di UNP Padang tak dapt dihubungi.
Hari ke empat kami terkejut.Ayah datang dengan mobil box berisi bantuan yang terkumpul dari saudara- saudara di Sidikalang.
Karena kami tak dapat ditelpon,ayah bertindak langsung berangkat melihat kondisi anaknya  ke Sumbar apakah selamat atau tidak.hiks.
Alhamdulillah kami selamat,adikku Sihah selamat juga.
Ayah mengira kami masih mengungsi.Mobil Box yang dibawa ayah itu penuh makanan,beras,tenda,ember,gayung sampai pisau pun ada.Cukup untuk keperluan di pengungsian.
Alhamdulillah ...dan Terima kasih juga kepada semua saudara yang telah mengirimkn bantuan saat itu kepada kami.Nama yang tak tersebut,semoga kebaikan keluarga dan tetangga di Sidikalang dibalas Allah SWT dengan kebaikan yang berlipat ganda.

Gempa sering menghampiri daerah ini.Kapan akan terjadinya,dimana pusatnya Wallahu'alam..Allah punya rahasia.Kita hanya berusaha waspada dan tetap mempersiapkan diri.
Semoga kita dijauhkan dari musibah dan marabahaya.


Yang abadi dalam do'aku

 Kepada lelaki yang telah berada di sisiku 21 tahun, aku bercerita tentang seorang lelaki yang selalu di hatiku selama 46 tahun ini. Dia aya...