Kamis, 24 Juni 2021

Parenting

 Sudah lama aku berkeinginan melakukan tes StiFIn pada anak-anakku. 

Kamu sudah tau apa itu Tes Stifin?bagi yang belum pernah dengar, tes tersebut dilakukan untuk mengetahui kecerdasan seseorang melalui sidik jari dengan metode tertentu.

Penemuan metode tersebut itu sebenarnya sudah termasuk lama, dan aku tertarik lebih karena ingin tahu setelah membaca pandangan atau pengalaman orang yang telah melakukan.

Kesepuluh jari kita akan direkam dengan alat yang terkoneksi ke server pusat, yang akan mengidentifikasi sidik jari yang kita punya. tergolong ke dalam 5 kategori yang menmggambarkan cara berfikir otak kita. Setidaknya begitu kata penemunya ya..

Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling, Insting (STIFIN)

Suami telah melakukan tes ini 5 tahun yang lalu.

Dari 5 anakku, 2 orang kategori Thinking seperti ayahnya, dan 3 kategori Intuiting.

Dan aku satu-satunya yang Feeling...waw..waw...kenapa emaknya sendiri yang beda ya.??hahaha

Apa pentingnya bagiku mengetahui ini?tak lebih adalah untuk mengetahui pola yang dimiliki anak-anakku yang kuharap membantuku dalam memahami mereka.

Si Thinking adalah orang yang berfikir lebih kepada logika.Yang berperan adalah belahan otak Cortex kiri. Sehingga mereka lebih suka belajar terkait matematika dan sains, karena disana banyak peluang logis matematis.Lain lagi yang tiga si Intuiting yang kreatif dan visioner.

Mengetahui sebagian kepribadian mereka memang terlalu dini jika men'cap' atau men'judge' mereka  dengan vonis tertentu. Karena bagi kami biarkan anak melalui setiap sesi perkembangannya dengan alami. Orangtua hanya bertugas mengarahkan mereka dnegan terlebih dahulu memahami pola pikir, kebiasaan dan minatnya.

Aku si Feeling yang katanya mampu mengikat keluarga ini dengan cinta, merasa jalan ini akan warna -warni dan butuh waktu untuk belajar dan belajar lagi sebagai ibu.

Minggu, 20 Juni 2021

Tentang Pilihan

 Sebuah keputusan besar terpaksa kuambil di awal tahun ini.

2021 memang penuh catatan bagiku.

Semua serba mendadak,datang menyerbuku bagai laron menyerbu cahaya.Akupun tak tahu entah itu takdir yang harus dijalanai atau sebuah pilihan atas kekurangsanggupan.

Akhir tahun kemarin adalah akhir tahun yang membahagiakan saat aku diwisuda dari STIT Syekh Burhanuddin Pariaman setelah perjuangan 4 tahun tepat.

Beberapa rencana telah terpampang di depan mata, aku bersiap untuk mendaftar Program Magister Guru PAUD di UNP,kampus incaranku berikutnya.

Saat amanah itu datang, muncul satu hentakan lagi di hadapanku. 

Anak bungsuku yang selama ini perkembangannya telah meresahkan kami, kembali kami bawa ke pusat perkembangan anak. Klinik MLC di Jati,Padang.Tahun kemarin sudah pernah kami bawa namun karena wabah covid membuat rentan ke pusat kesehatan kami tunda.

Di usia hampir 4 tahun, Azzam kami belum bisa berbicara. Mengingat Zaki, kakaknya si nomor 3 juga mengalami keterlambatan bicara membuat kami merasa tidak terlalu masalah.Mungkin waktu yang akan menyembuhkannya.So sad..atas pemikiran bodoh kami ketika itu.Karena hingga kini klas 5 SD Zaki masih mengalami kesulitan mengucapkan kata karena fisiknya yang menyebabkan gangguan tidak pernah kami terapi.

Kasus Azzam beda, selain belum bisa sama sekali berbicara, dia juga mengalami kekurangan fokus dan beberapa gejala hambatan tumbuh kembang. Materi yang kudapat selama kuliah, rasa bersalah atas  abangnya dan benturan rasa bersalah lainnya mendera diriku khususnya.Dan rasa itu semakin lengkap begitu diagnosa akan Azzam kami terima. Setelah menemui dokter anak, mengikuti tes BERA untuk menguji pendengarannya ( di Sentra Pendnegaran AURIS,Purus ,Padang) bisa disimpulkan gangguan Azzam sejenis autis.Namun Alhamdulillah masih taraf ringan.

Awal tahun itu   adalah masa terendah akan motivasiku. Entah kenapa, aku menyelahkan diriku sendiri. Tampak hal lainnya Azzam normal, daya ingatnya bagus dan fisiknya tidak masalah. Dia yang tampaknya biasa saja namun jawaban kenapa selama ini dia cenderung  aktif berlebihan bukan sebatas perkembangan normal. Dia tidak faham akan perintah, dia tidak mau berteman.

Saat itu aku hanya berpusat pada diriku.Aku menganggap orang lain tidak perlu tahu karena akulah sumber masalahnya.Semua bagiku tidka penting pada masa itu. Sesudah 4 orang anak sebelumnya, yang ini menyisakan kekhawatiran berlebihan.

Aku menolak amanah besar yang diberikan partai padaku dengan penuh kesadaran.Aku tak peduli apa kesan beberapa orang, yang kutau bahwa aku tak akan sesuai dengan tempat itu dan masih banyak orang lain yang layak menjalankannya dan tentu lebih amanah. 

Akupun memutuskan membatalkan rencana kuliah melanjutkan program magister.Mungkin belum masanya, begitu pikirku.

Karena hal ini masih bisa dihadapi dengan sikap wajar, aku pun wajar saja menyikapi itu namun dengan perasaan campur aduk masa itu. Aku dan suami yang memang selalu berdua membawa Azzam bolak balik ke klinik di Padang sepakat  mengikuti saran dokter mengikuti terapi Sensori Integrasi. Karena masalah awal Azzam tampak pada inkonsistensi pemahamnya. terapi SI ini direncanakan 8 kali pertemuan kelak akan dilanjutkan dengan tahapan Terapi Wicara (TW)

Dokter memberi pilihan tempat terapi. Sesudah mendapat kabar di rumah sakit yang meyani BPJS terapi harus masuk daftra tunggu, kami memilih terapi di klinik MLC yang sedang ada jadwal kosong setiap hari Kamis dengan konsekuensi kami kesti ke Padang setiap hari Kamis siang.Itupun kami sanggupi.

Alhamdulillah terapi Azzam berjalan 2 bulan sejak Februari hingga awal April (karena sempat absen 2 kali kunjungan).Terapi berhenti karena akan memasuki bulan Ramadhan, yang membuat kami susah ke Padang karena 2 orang anak lagi tinggal di rumah. 

Perkembangan selama terapi Sensori Integrasi dan diiringi minum obat, Alhamdulillah beberapa kata telah terucap dari mulut Azzam.Dia seiring waktu semakin banayak mengucapkan kata dan bisa mengikuti lagu yang sering didengarnya di Youtube.

Sampai saat ini, kami hanya memaksimalkan dengan mendampinginya dalam berkata-kata.Aku menjadi sering bernyanyi bersamanya, karena Azzam suka menyanyi, mengulang kata yang terucap dari kami.

Pilihan Terapi Wicara belum kami lanjutkan karena haru konsultasi lagi ke dokter, serta mencari tempat terapi yang dekat saja.

Semoga Azzam semakin pintar.Aamiin..


Minggu, 08 November 2020

Demam bunga

 Demam bunga, tepatnya tanaman..melanda emak-emak akhir-akhir ini. Tampaknya masyarakat butuh hiburan di tengah situasi pandemi yang megharuskan kita masih banyak beraktifitas di rumah.Media sosial berperan memberi andil demam ini. Semakin viral maka semakin demamlah kita semua.Bunga yang biasanya terlantar pun kini segar karena makin diperhatikan si empunya.Tanaman keladi yang memang ramah tumbuh di iklim indonesia makin naik daun.Ada yang harganya jutaan (kata media sosial) entah iya entah tidak.Siapa yang membeli sampai jutaan/mungkin artis atau orang berduit yang juga turut terkena demam ini. Kalau yang duitnya sedikit atau sayang menghabiskan duitnya untuk beli bunga,bisa terjun ke semak atau minta bunga tetangga atau kawan.Yang penting perbanyak silaturahmi dan saling berkunjung ke rumah..niscaya bunga kita di rumah akan bertambah pula.

Tak ada yang salah dengan demam bunga ini. Sisi positifnya bagi yang jualan tanaman pastinya akan mengeruk untung.Yang jualan pupuk,kompos apalagi rak bunga kini sedang memanen.Dan yang awalnya tak pernah bertukang,kini pun sudah pula membuat dan menjual rak bunga.

Rumah orang terlihat meriah dan berwarna-warni.Bunga-bunga itu pasti bahagia.Jika mereka bisa berbicara mungkin mereka bersyukur pada Allah dan berharap demam bunga ini tidak reda

Malamang di Pariaman

 Tak terasa waktu sudah memasuki penanggalan 12 Rabi'ul Awal di kalender hijriyah,bertepatan dengan tanggal 8 November kalender Masehi.Bulan ini adalah bulan kelahiran Baginda Rasulullah Muhammad SAW. Sebagai manusia kita dinasehati utnuk selalu mengambil ibrah dari setiap kejadian. Begitu pula dengan peringatan kelahiran sang suri tauladan atau maulid Sang Nabi.

kearifan lokal yang ada di Sumatera Barat umumnya dan Pariaman khususnya, memperingati maulid nabi dengan acara Malamang/memasak lemang. Makanan lemang mungkin kita sudah tahu karena makanan dari ketan yang dimasak dengan bambu secara dipanggang ini adalah makanan yang umum ada di beberapa daerah di Indonesia. Namun Malamang di Pariaman tidaklah sekedar memasak lemang namun juga dirangkaikan dengan kegiatan lain secara kolosal.

Kegiatan Malamang diangkatkan oleh suatu kenagarian atau desa dan umumnya diadakan di surau/masjid.Semua warga akan terlibat menyumbang lemang dan jamba ke surau.jamba merupakan paket makanan yang umunya terdiri dari nasi, asampadeh ikan, gulai ayam kampung, kacang panjang,terung diberi sambal cabai dan yang lainnya.Makanan tersebut akan ditata sedemikian rupa di atas tempat dari kayu lalu dibawa ke surau beserta lemang yang telah dibungkus kertas koran atau kertas warna-warni. Puncak acara malamang diawali dengan salawat dulang oleh orang siak dan ketika tamu sudah berkumpul maka acara makan-makan akan dimulai.

yang menarik dari acara Mlamang ini adalah keramain yang menyertainya.Anak-anak akan memenuhi halman surai,ditimpali suara para pedagang yang menjajakan dagangannya.

Kamis, 01 Oktober 2020

Dimanakah kamu saat gempa 2009 di Sumbar?

Kenangan heroik tentang ayahku yang selalu membekas dalam ingatan.

Flashback ke 30 September 2009 di Desa Marunggi Kota Pariaman.

Hari itu berjalan seperti biasa.sekitar jam 5 sore , dimana anak-anak bermain di halaman, orang-orang duduk bercengkrama menunggu maghrib menjelang.Kami yang masih tinggal di rumah mertua telah memiliki anak 3 orang.Si sulung Wafa  berusia 5 tahun,Jundi 3 tahun dan Zaki saat itu baru berusia 6 bulan. Wafa dan Jundi saat itu bermain bersama anak tetangga.Sementara suami dan mertua duduk mengobrol di teras. Aku menggendong si kecil sambil menonton berita sore di dalam rumah seperti biasa.

Mendadak seketika bumi berguncang hebat dan terdengar suara gemuruh.Kami yang tinggal di daerah rawan bencana sudah terbiasa waspada langsung berhamburan.Aku menggendong anakku ke luar rumah.Sesaat aku keluar pintu,dinding rumah di sebelah pintu ambruk jatuh,debu pun berhamburan.
Kami yang panik hanya duduk di halaman .Anak-anak pun menangis cemas.Kami spontan berzikir: Laa ilaha Illallah!!!
Gempa reda setelah beberapa menit.Bagian dapur rumah sudah ambruk tak berdinding lagi.Ada yang pergi ke tepi pantai yang hanya berjarak 200 meter dari rumah,untuk melihat apakah air surut  sebagai pertanda tsunami akan menerjang.
Tapi keputusan tercepat adalah tidak perlu menunggu lama,kami harus mengungsi lewat jalur evakuasi.
Dengan mobil tetangga,kami mengutamakan anak-anak dahulu.Pemukiman kami termasuk padat dan tetangga kami adalah satu kaum sepersukuan.Orang dewasa bergegas pakai motor.Aku termasuk ke dalam pasukan naik mobil bersama anak-anak.Mobil kijang tetangga itu dipenuhi sekitar 15 orang anak.Akupun tak ingat jelas tepatnya.
Kami menuju ke daerah Santok.Sepanjang jalan tampak beberapa rumah sudah bersujud,ambruk,retak,hancur di antara orang-orang yang panik.
Kami menumpang di teras rumh seorang teman.Hari semakin gelap, hujan pun turun,mati lampu...dan anak-anak menangis!
Anak yang kami bawa ada yang tidak jelas dimana ayahnya,ibunya,kakaknya..pokoknya kami semua berkumpul menangis.Kecuali aku tentunya..Aku berusaha tenang,karena jadi kepala pasukan.
Makan malam kami disediakan tuan rumah yang baik hati. Jaringan telepon mati total.Pak tetangga kembali ke kampung untuk memberitahukan keberadaan kami.Malam kami lalui dengan cemas.Waspada gempa susulan,kami hanya berkumpul di teras.Beberapa tetangga menyusul berkumpul.Isu-isu pun berseliweran,katanya tsunami sudah naik,rumah hancur lebur dan yang lainnya.
Alhamdulillah malam itu ditengah kepanikan bisa kami lalui dengan selamat.
Paginya..karena dirasa aman dan gempa susulan kecil saja,kami berangsur pulang
Mendapati rumah yang hancur setengahnya.
Hari pertama..hari kedua..listrik masih mati,jaringan internet belum aktif.Hari ketiga aku baru dengar kabar bahwa Kota Padang kondisinya parah.Info dari tv di warung yang punya genset.Pusat gempa ternyata di Pariaman.Kerusakan di Pariaman juga banyak.Namun di Padang bangunan bertingkat banyak yang ambruk,hotel,mal,rata dengan tanah.
Suasana kacau tersebut ditonton oleh ayah dan mamak di Sidikalang.
Perasaan mereka pasti kacau meliht berita.Karena aku dan keluarga di Pariaman,dan sihah adikku yang kuliah di UNP Padang tak dapt dihubungi.
Hari ke empat kami terkejut.Ayah datang dengan mobil box berisi bantuan yang terkumpul dari saudara- saudara di Sidikalang.
Karena kami tak dapat ditelpon,ayah bertindak langsung berangkat melihat kondisi anaknya  ke Sumbar apakah selamat atau tidak.hiks.
Alhamdulillah kami selamat,adikku Sihah selamat juga.
Ayah mengira kami masih mengungsi.Mobil Box yang dibawa ayah itu penuh makanan,beras,tenda,ember,gayung sampai pisau pun ada.Cukup untuk keperluan di pengungsian.
Alhamdulillah ...dan Terima kasih juga kepada semua saudara yang telah mengirimkn bantuan saat itu kepada kami.Nama yang tak tersebut,semoga kebaikan keluarga dan tetangga di Sidikalang dibalas Allah SWT dengan kebaikan yang berlipat ganda.

Gempa sering menghampiri daerah ini.Kapan akan terjadinya,dimana pusatnya Wallahu'alam..Allah punya rahasia.Kita hanya berusaha waspada dan tetap mempersiapkan diri.
Semoga kita dijauhkan dari musibah dan marabahaya.


Senin, 31 Agustus 2020

My Agustus

 Agustus itu bulan milikku (jangan komplain)

Karena aku lahir di bulan ini. Tiap awal bulan aku selalu antusias menyambutnya. Tanggal 22 adalah tanggal istimewa untuk dikenang. Di tanggal itu aku akan berulangtahun, mengenang pertambahan usia dari tahun-tahun sebelumnya. Berharap semoga diri ini semakin matang alias mature kata orang seberang sana!

Masa remaja dahulu jujurlah..aku ingin hari kelahiran dipenuhi suasana sukacita. Ucapan selamat dari orang terdekat. Dengan wajah gembira engkau dido'akan..diharapkan mendapat kebaikan dan meraih semua apa yang diinginkan. Pokoknya, tanggal 22 itu berakhir dengan malam yang indah dan aku tidur dengan mengaminkan semua do'a yang membumbung ke langit seiring mimpiku yang mengangkasa.

Semakin tua, jujur aja lagi!!

Ternyata kita semakin mencari makna. Tanpa diperintah aja, fikiran dan hati kita seperti ada sebuah guide yang meuncul memberi pencerahan tanpa kenal waktu dan tempat. Misalnya: aku melihat sebuah kejadian yang menyedihkan yang dialami seorang teman. Dari layar kesedihan itu aku tidak turut larut seperti sebelum-sebelumnya.Timbang perasaan sudah didominasi fikiran mencari makna.Semakin tua kita ternyata semakin mencoba tidak terburu-buru.Kita sudah pernah mengalami suatu peristiwa yang mana kala terjadi lagi ke depannya (dengan format serupa) maka jiwa kita mengambil pelajaran dari yang sudah-sudah.Kita tidak lagi terlalu emosional, kita semakin sering melihat kepergian orang-orang yang kita kenal. Saudara, teman, guru,tetangga.Dan itu semakin memberi makna.

Ditengah angka usia yang semakin naik seperti angka berat badan, aku memilih menyepi dari kehingarbingaran.Aku bukannya antipati dengan ucapan Selamat Milad,selamat ulang tahun. Tak ada yang salah dengan ucapan berisi do'a selamat. Kepada anak-anak tiap hari lahirnya kami tak pernah memberikan lilin ber angka dan menyuruh mereka (make a wish, son!) lalu meniupnya.Tidak. Tapi setiap mereka ultah, hingga saat inipun kami akan saling mengucapkan selamat.Dan menutup malam dengan makan bersama keluarga.Karena kue sudah terlalu menambah berat badan (lagi-lagi).Ia berklori sangat tinggi!. Momen ulang tahun bagi anak harus tetap mereka peringati.

Tapi saat suami dan anak-anakku bulan kemarin mengucapkan selamat ulang tahun, aku semakin diingatkan tentang limit yang semakin dekat.Dan aku banyak-banyak mengaminkan do'a :semoga usiamu berkah! karena panjang umur tapi tak berkah akan sia-sia.

Demikian catatan malam ini tepat pukul 23:09


Sabtu, 15 Agustus 2020

Mendung di Langit Sinabung

 


    Sebuah novel berada di tanganku. Buku bersampul gelap itu seolah menggambarkan kelabunya asap Gunung Sinabung, seperti judulnya Mendung di Langit Sinabung.

Yup..kuulangi kembali membaca novel karangan seorang teman, saudara dalam ukhuwah,wanita tangguh, Ika DY yang sekarang berdomisili di Kota Binjai Sumatera Utara. Novel ini bertemakan kisah percintaan seorang penyintas (survivor) bencana bernama Atika yang memendam rasa terhadap Ibrahim, teman masa kecilnya. 

Rumitnya kisah percintaan diramu Ika DY dengan adanya Alisya dan hadirnya sosok Guntur  di sisinya. Remuknya hati  menghadapi realita menghantarkan Atika berangkat meninggalkan kotanya ke Sinabung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, mengabdikan diri dalam kegiatan kemanusiaan dan juga melarikan diri dari sebuah kegelisahan. Siapa yang mesti ia salahkan? perhatian Ibrahim kepadanya yang telah disalah maknai? atau sosok Alisya yang membiarkan perasaannya berurat berakar namun akhirnya tercerabut dan menyisakan rasa  perih? Yang jelas ia marah kepada keduanya!

    Bagiku, novel ini memberi kesan tersendiri.  Gunung Sinabung yang gagah perkasa selalu terlihat menjulang dari kampung ku di Sidikalang, Kabupaten Dairi. Desa Sukandebi, daerah yang digambarkan rawan dalam  cerita novel ini  hanya berjarak  sekitar 32 Km dari Sidikalang. Secara geografis Kabupaten Dairi  dan Kabupaten Karo bersebelahan bersusun di dataran tinggi. Bubungan hitam letusan serta debu bisa terlihat dan sampai ke perbatasan daerah kami. Bencana erupsi. Sinabung yang kembali  terjadi minggu lalu itupun seolah memberi rasa tersendiri  membacanya, seolah membawa rendezvous tokoh Atika dan Guntur. 

    Novel ini  memuat cerita  kemanusiaan, kehidupan relawan bencana dan suka-dukanya. Bagaimana suasana saat letusan terjadi, bagaimana kesigapan bertindak dan mengisi waktu menghibur anak-anak pengungsian.  Ika DY menggambarkan kondisi Dataran Tinggi Karo dengan tepat. Alam dinginnya, subur tanahnya dan ramah penduduknya. Menyatu bersama warga di pengungsian bencana seolah membawa kita langsung mengalami suasana tersebut.

    Rasa khas 'Sange' seolah telah hadir di mulutku, mengingat aku dibesarkan di Sidikalang . Kondisi tanah Karo seiras dengan daerahku, kondisi alamnya, kearifan masyarakatnya. Minuman khas itu juga ada di daerah kami (percayalah ka, aku langsung menyeduh sange-ku dengan rasa yang 'pas' itu :)). Termasuk juga Cimpa, kue khas Karo juga istilah-istilah bahasa Karo yang sangat akrab di telinga. Mengingat Tigalingga, kecamatan di perbatasan Dairi-Karo, kampung ibuku dilahirkan mayoritas masyarakatnya berbahasa Karo.

    Keseharian Atika bersama pengungsi menggumulkan rasa kasihan, empati dan bercampur pilu hati setiap mengingat Ibrahim dan Alisya yang meluluhkan perasaannya. Atika berusaha mengalihkan setiap bayangan Ibrahim yang tak berhenti hadir di benaknya. Atika mencari jawaban rasa yang dia sendiri tak pernah tahu kenapa selalu mengganggunya. Sosok Bang Ben dan dr.Alin membuat Atika menyadari bahwa cinta tak mesti saling memiliki. Karena waktu berlalu dan banyak hati lain yang mesti dijaga. Suatu waktu ia mesti belajar ikhlas, dan waktu menjawabnya.

    Namun setiap upaya kita menjauhkan diri, selalu ada jalan untuk pulang. Berita mendadak tentang Alisya  yang kini tergolek rapuh dan lemah dikungkung penyakit level stadium akhir . Alisya-nya yang sebenarnya telah lemah, namun memutuskan menggenggam cinta yang lebih sempurna. Apakah Atika tahu bagaimana menggugunya Alisya memohon Tuhan untuk takdirnya bersama Ibrahim? Di atas rasa cinta segitiga, ada rasa yang lebih besar yang akan memudarkan itu semua dan menyatukan tanpa perlu banyak berkata lagi. Cinta yang sempurna.

    Sisi kemanusiaan juga digambarkan melalui sosok ibu Ratih. Saat Ika membawa flash back kisah Alisya, Ibrahim dan Atika,aku tak kuasa menahan airmata. Aku diingatkan realita anak-anak senasib seperti mereka. Itu ada di sekeliling kita dan butuh kita untuk melimpahinya dengan kasih sayang . Aku mendadak ingin seperti Bu Ratih yang penuh pengorbanan. Sungguh pandai Ika menggugah hati pembacanya.

     Di Sinabung juga Atika bertemu Guntur yang sejak awal sudah memberi perhatian padanya. Bagaimana nasib Guntur?Apakah nanti Atika dipertemukan dengan Ibrahim?apakah mereka akan dipersatukan? Kenapa Alisya membuat Atika mesti menjauh dan memilih mengalah?

    Membaca novel ini juga membawa kita merenung. Bencana silih berganti dan bermacam bentuknya selayaknya membuat kita terjaga, dimanapun kita mesti memberi peran dalam bentuk yang kita bisa. Sebagaimana kata sosok Bang Ben :di bumi ini tak pernah ada bencana alam, yang ada adalah bencana kemanusiaan.  Sebab alam memiliki caranya sendiri untuk merawat diri dan kondisi di sekitarnya , seharusnya kita belajar dari alam bagaimana ia menjaga kelestarian, keselarasan juga keseimbangan. 

Aku juga sepakat dengan pengantar di awal oleh penulis Hujan Tarigan, bahwa terkadang bencana adalah cara alam menyembuhkan dirinya. Mungkin debu vulkanik Sinabung ini adalah obat luka yang dapat menyuburkan tanah Karo sebagai sentra pertanian? ilmu pertanianku menyatakan bahwa debu vulkanik gunung berapi sangat baik menyuburkan lahan pertanian. Sekarang ia bencana, namun puluhan tahun lagi ia adalah sumber daya alam bagi anak cucu? mungkin?wallahu'alam..karena sebagai manusia kita mesti banyak bertanya hikmah dari sebuah kejadian dan menyadarinya sebagai cobaan juga anugerah Ilahi.

    Tabik Ika! my sister fillah...Bukumu mengobati rinduku akan sosok penuh semangatmu yang Ika gambarkan lewat sosok Atika. Namun Ika -ku orangnya tegas dan gak melow sih..hahhaha...

Ditunggu karya slanjutnya ya Ika sayang... 

   

Yang abadi dalam do'aku

 Kepada lelaki yang telah berada di sisiku 21 tahun, aku bercerita tentang seorang lelaki yang selalu di hatiku selama 46 tahun ini. Dia aya...